Global Forest Watch 2.0

Powered by Google Earth Engine, WRI and partners are developing a new forest monitoring system that will unite technology, transparency, and human networks to mobilize faster, more effective forest conservation and sustainable forest management. It combines a novel near-real-time deforestation alert system, complementary satellite data and systems, a treasure trove of WRI and partner maps, mobile technology, and a networked world to create never-before-possible transparency. This transparency wi

9 April 2013 – Sebuah inisiatif baru diresmikan pada hari Selasa (9/4) di Forum PBB untuk Hutan yang akan menyediakan informasi yang jelas dan tepat waktu yang membuatnya lebih mudah bagi pemerintah, perusahaan dan masyarakat untuk melawan deforestasi.

Global Forest Watch 2.0 adalah sistem pemantau hutan independen, interaktif, real-time, yang menyatukan teknologi satelit, berbagi data dan jaringan manusia di seluruh dunia untuk memberikan informasi penting guna mengelola hutan dengan lebih baik.

Program ini dikembangkan oleh World Resources Institute dan sejumlah mitra – termasuk Google, Universitas Maryland dan Program Lingkungan PBB (UNEP) – dan pernah ditinjau oleh peserta sesi saat Forum berlangsung di Istanbul, Turki.

“The Global Forest Watch 2.0, yang akan diluncurkan bulan depan, program ini datang pada saat yang kritis,” menurut Wakil-Sekretaris-Jenderal untuk Urusan Ekonomi dan Sosial Wu Hongbo pada acara tersebut.

“Dalam mencapai pengelolaan hutan yang berkelanjutan, handal, up-to-date dan dengan mudah dapat mengakses data dan informasi sangat penting untuk melakukan pemantauan, penilaian dan intervensi yang efektif,” beliau mengatakan.

Alat “luar biasa” ini merupakan langkah penting dalam memberdayakan pemerintah dan masyarakat untuk mengambil bukti berdasarkan, keputusan dalam memajukan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, beliau menambahkan.

“Bagi kebijakan yang harus berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan fakta-fakta, data dan informasi harus secara luas dan mudah dapat diakses. Data juga harus dalam format yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dan dalam domain publik,” kata Wu. “Global Forest Watch 2.0 akan membantu mencapai tujuan tersebut.”

Memperkenalkan alat baru adalah, Nigel Sizer, Direktur, Global Forests Initiative, World Resources Institute, dan menunjukkan bahwa banyak negara telah membuat kemajuan luar biasa dalam meningkatkan kualitas informasi yang dikumpulkan mengenai hutan dan membuatnya dapat diakses.

Salah satu contoh adalah Brasil, dengan pemantauan yang hutan dengan sistem yang real-time telah pula meningkatkan upaya penegakannya.

“Tingkat deforestasi di Amazon Brasil telah turun 80 persen sejak 2004,” ujar Sizer. “Menurut seorang pejabat senior Brasil, ini adalah sebagian dari upaya mereka untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan informasi tentang apa yang terjadi pada hutan-hutan tersebut dan membuatnya secara cepat tersedia bagi mereka yang bisa mengambil tindakan.”

Contoh lain adalah Gabon, yang menginvestasikan jutaan dolar dalam meningkatkan akses ke seluruh wilayah untuk pencitraan satelit dan penginderaan jarak jauh untuk sebuah program infrastruktur baru yang sedang dikembangkan di lapangan.

“Tapi kita perlu melakukan dengan jauh lebih baik,” tegas Sizer, dan menambahkan bahwa manajer dan mereka yang bertanggung jawab untuk hutan di banyak negara masih kekurangan akses terhadap informasi yang akurat tentang apa yang terjadi pada hutan mereka. Ini adalah masalah di negara-negara berkembang dan negara maju.

Ada sejumlah masalah di daerah ini, termasuk fakta bahwa informasi yang tidak up to date; sangat mahal untuk mengumpulkan informasi, dan proses pengumpulan informasi yang sangat teknis.

“Masing-masing negara menghabiskan jutaan dolar untuk mengumpulkan dan mencoba untuk menganalisis data satelit daripada menghabiskan uang itu untuk mengambil tindakan guna mengatasi masalah penyajian informasi,” menurut Sizer.

Menurut World Resources Institute, inisiatif baru telah dirancang berkat adanya konvergensi teknologi dan jaringan manusia, termasuk kemajuan teknologi penginderaan satelit dan sensor secara terpencil.

Serta, komputasi dan perangkat lunak yang bebas tersedia sekarang dapat digunakan untuk secara cepat memproses dan menginterpretasikan sejumlah besar data satelit dengan biaya rendah dengan memanfaatkan sekelompok server yang tersebar di seluruh dunia. Tim Google Earth Engine yang bermitra dengan Global Forest Watch 2.0 untuk mengoptimalkan akses yang mudah ke informasi kehutanan berbasis komputasi informasi hutan.

Sementara itu, konektivitas berkecepatan tinggi internet memungkinkan pengiriman data dan peta hutan olahan di Amerika Utara, Eropa atau Singapura ke laptop dan ponsel di Jakarta, Kinshasa, Lima, Vladivostok, dan di sudut lain belahan dunia. Juga, smartphone, yang lebih lazim, dapat digunakan oleh siapa saja di lapangan untuk mengunduh peta dan citra satelit, serta mengunggah koordinat GPS dan foto-foto dari lapangan.

Selain itu, dengan melakukan pelimpahan tugas ke petugas menggunakan interface web sederhana dapat memberdayakan sejumlah besar orang untuk mengumpulkan dan berbagi informasi, berpartisipasi dalam pemantauan hutan, dan memegang akuntabilitas janji para pemangku kepentingan. Ditambahkan ke sistem ini adalah sosial media yang dapat menyebarkan informasi dengan cepat, membantu masyarakat mengatur, dan memobilisasi masyarakat untuk bertindak.

Advertisements