June 25, 2013BERIKAN KOMENTAR
 Kokok ayam ketawa mengantar langkah saya memasuki kawasan adat Ammatoa – sebuah bentang alam rimbun yang dihuni masyarakat Suku Kajang di Desa Tana Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Tergolong tempat magis yang diselimuti banyak misteri, wisatawan yang berkunjung ke Tana Towa memang sedikit. Berbeda jauh dengan Tana Toraja, objek wisata budaya yang berlokasi di provinsi yang sama. Tetapi jangan salah, pesona alam dan budaya Tana Towa tak kalah.

Pengunjung di pintu masuk menuju kawasan adat Ammatoa. Pintu ini berfungsi sebagai batas kultural antara Tana Kekea (permukiman dalam) dan Tana Lohea (permukiman luar). Foto: Clara Rondonuwu

Setelah berjalan melewati setapak berbatu yang dikelilingi bambu dan pohon kayu biti (Vitex cofassus), saya sampai di Dusun Benteng. Ini adalah satu dari tujuh dusun yang ada di dalam gerbang kawasan adat Ammatoa atau biasa disebut Tana Kekea. Masyarakat Kajang yang ada di daerah tersebut masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya dan merupakan pengikut setia sang pemimpin adat yakni Ammatoa.

Kawasan tersebut steril dari motor, mobil, televisi, dan listrik. Laki-laki dan perempuan yang berbusana serbahitam tampak lalu lalang membawa hasil hutan atau menggembalakan sapi. Adapun rumah-rumah mereka tampak seragam, berbahan kayu dan menghadap Gunung Lompobattang. Yang khas, tiang-tiang rumah melengkung mengikuti bentuk asli dari kayu biti. Letak dapur juga persis di sebelah pintu masuk.

Anak-anak berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumah mereka yang berada dalam kawasan adat Ammatoa. Warna seragam disesuaikan dengan adat, yakni putih hitam. Foto: Clara Rondonuwu

Masyarakat Kajang dalam Tana Kekea secara sengaja menjauhi kehidupan modern. Bukannya alergi teknologi, akan tetapi menurut adat setempat kesederhanaan hidup bisa lebih terjaga tanpa keberadaan barang-barang tersebut. Apalagi hampir semua kebutuhan hidup mereka tercukupi dari beraneka sumber daya hutan.

Buat masyarakat yang ingin menikmati listrik dan barang elektronik, ada pilihan untuk tinggal dalam dua dusun lain di luar gerbang kultural atau disebut Tana Lohea.

Perempuan Kajang mengenakan sarung hitam yang mereka tenun sendiri. Pewarna diambil dari daun tarum yang tumbuh di hutan. Foto: Clara Rondonuwu

Tana Towa dalam bahasa setempat berarti tanah tertua. Masyarakat Suku Kajang meyakini bahwa di tempat itulah kehidupan paling awal dimulai, saat daerah sekelilingnya hanya lautan. Manusia pertama ada di Tana Towa, kemudian bertambah banyak dan memenuhi berbagai penjuru dunia.

Mereka juga meyakini, Tuhan senantiasa mengawasi kehidupan mereka lewat hutan. Selama 40 tahun lamanya, hutan di kawasan adat Ammatoa terjaga dengan baik dan luasannya tetap. Menurut Kepala Desa Tana Towa, Sultan, masyarakat Kajang memiliki pembagian jelas mana hutan yang bisa dinikmati hasilnya dan mana yang disakralkan.

photo (6)

Suasana di Desa Benteng, desa yang berada dalam kawasan adat Ammatoa. Foto: Clara Rondonuwu

Ada ratusan hektare hutan di kawasan tersebut yang disucikan dan masyarakat adat menolak memberi ruang bagi perusahaan perkebunan untuk mengeksploitasi hutan mereka. Sultan mengatakan bahwa hutan sakral tersebut hanya boleh dimasuki saat masyarakat Kajang menggelar ritual adat seperti andigigi atau upacara untuk mengajukan harapan kepada sang pencipta. Ada pula kegiatan ritual lain untuk memohon keselamatan supaya terhindar dari malapetaka.

“Hutan itu adalah adat dan adat itu hutan. Walaupun persepsi negara mengatakan kawasan itu adalah hutan produksi terbatas, tetapi selama itu pula kami mengakuinya sebagai hutan adat,” kata Sultan, menyinggung tentang problem kepemilikan hutan yang tengah membelit masyarakat adat tersebut.

photo (7)

Perempuan di kawasan adat Ammatoa menenun sendiri sarung hitam mereka. Pewarna diambil dari daun tarum yang tumbuh dalam kawasan hutan. Foto: Clara Rondonuwu

Adapun menurut peneliti kehutanan dari World Agroforestry Centre, James Roshetko, Tana Towa adalah contoh baik dari pemberlakuan peraturan adat yang tepat dalam melindungi dan mengatur penggunaan sumber daya hutan. Sudah selayaknya mereka mendapat pengakuan atas upayanya mengelola kawasan alamnya, apalagi saat ini sebagian besar hutan alam di Bulukumba sudah beralih fungsi. “Sayangnya, klaim mereka terhadap hutan adatnya belum dilindungi secara hukum. Proses pembuatan Perda sudah dimulai, tetapi tantangannya besar,” kata James.

Advertisements